Focus on functionalism and
children: moving beyond limited effects
functionalism[1]
![]() |
|
||||||
|
|||||||
|
|||||||
“The cornerstone of
functionalist theory is the metaphor of the giving organism, whose part and
organs, grouped and organized into a system, function to keep its essential
processes going. Similar, members of society can be thought of as cells and its
institutions as organs whose functioning .... preserves the cohesive whole and
maintains the system homeostasis”. (Bryant and Miron, 2004
p. 677)
seperti
yang di jelaskan oleh Bryant and Miron, mereka mengibartakan sistem sebagai bagain dari tubuh
seorang manusia, di mana sel adalah anggota masyarakat dan organ adalah lebaga
itu sendiri, tubuh manusia yang terdiri dari sel dan organ ini mempunyai
beberapa tanggung jawab yang harus ia emban demi terciptanya sebuah kehidupan.
Begitu juga dengan teori yang di ungkapkan oleh Bryant and Miron, bahwa susunan
sel dan organ dalam sebuah sistem ini berfungsi menjaga proses penting yang
terjadi, mempertahankan seluruh kohesif[2]
dan homeostatis dalam sebuah sistem. Homeostatis[3]
sendiri diibaratkan sebagi sebuah pertahan yang kuat dalam sebuah sistem.
Melalui
functionalism pengaruh yang jelas
dalam komunikasi massa dalam dunia sosial dapat dijelaskan dan dipahami, dan
pada saat yang bersaaman efeknya bisa dilihat terbatas sebagai bagian lain dari
sistem. Namun beberapa peneliti juga beranggapan bahwa functionalism bisa diterapkan untuk mempelajari komunikasi massa
itu sendiri dan tidak hanya untuk sistem sosial.
Apa
sebenarnya functionalism dan teori
kognitif sosial dalam membentuk teori komunikasi akan dijelaskan dibawah ini.
a.
Middle
Range Theories Marton (1967, p. 68)
1.
Middle
Range Theories consist of limited sets of assumptions from which specific
hypotheses are logically derived and confirmed by empirical investigation (Marton
menjelakan bahwa penelitian empiris masih merupakan tongkat pegangan yang
penting ketika menggunakan teori rentang tengah ini, karena hipotesisinya
merupakan bagian dari penelitian empiris[4].
2. These theories do not remain
separate but are consolidated into wider networks of theory. Dia
juga menjelaskan bahwa teori ini tidak dapat di pisahkan dengan penelitian
empiris dan merupakan kosolidasi yang lebih luas dari teori itu sendiri. Teori
rentang tengah merupakan pompa mendasar untuk membuktikan penelitian empiris.
3. these theories are sufficiently
abstract to deal with differing spheres of social behaviour and social
structure, so that they transcend sheer description or empirical generalization.
Ketika teori ini di hadapkan pada sebuah hal yang berbeda diluar dari prilaku
sosial dan stuktur sosial maka akan terjadi sebuah pemaparan yang abstrak dan
hanya dapat menjelaskan secara tipis deskripsi dari pokok permasalah
genelasisasi empiris
4. this type of theory cuts across the
distinction between micro sociological problems. Jenis
rentang dalam teori ini adalah melintasi perbedaan antara masalah pada sosilogi
mikro
5. the middle range orientation
involves the specification of ignorance rather than pretend to kowledge where
it is in fact absent, this orientation expressly recognizes what must still be
learned to lay the foundation for still more knowledge.
Marton
menekankan pada tindakan-tindakan yang berulang kali atau yang baku yang
berhubungan dengan bertahannya suatu sistem sosial di mana tindakan itu
berakar. Ia juga menekankan fungsi manifest (yang dikendaki) dan laten (yang
tidak dikehendaki). Fungsi manifest sendiri dijelaskan sebagai
konsekuensi-konsekuensi obyektif yang menyumbang pada penyesuaian terhadap
sistem itu yang dimaksudkan dan diketahui oleh partisipan dalam suatu sistem (William
M Dobriner). Misalkan, sebuah stasiun televisi mempunyai fungsi nyata yakni menyediakan hiburan bagi masyarakat. Nyata
yang dimaksudkan adalah tujuan dari televisi itu sendiri menghibur masyarakat.
Sedangkan Fungsi laten yang ia jelakan adalah
sebuah fungsi yang tidak dimaksudkan dan tidak diketahui. Dengan kata lain menyebutkan bahwa fungsi latent
merupakan suatu tipe konsekuensi yang tidak terantisipasi, sesuatu yang
fungsional bagi sistem yang dirancang. Kita ambil saja contoh stasiun televisi
tadi yang menyediakan hiburan untuk masyarakat, misalanya saja sinetron. Sinetron yang ditonton bisa mengajarkan
banyak hal, baik itu tidakan yang baik dan tindakan yang tidak baik, seperti
kekerasan yang dilakukan, selain hiburan yang kita dapatkan kita juga
terimplikasi hal lain yang secara sadar atau tidak sadar kita mengikuti atau
terkena efek sikologis dari apa yang kita tonton.
Kekuatan
fungsionalisme terletak pada posisi media nya, di mana pengaruh posisi media
yang ada dalam setiap benak masyarakat ini mempunyai pengaruh yang besar dalam
sistem sosial. Adanya keseimbangan peran di masyarakat antar media dan
masyarakat seperti simbiosis mutualisme saling membutuhkan satu dengan yang
lainnya. Kekuatan yang dimiliki fungsionalisme dengan teori hiburan massa
menunjukan adanya hubungan dan interaksi media yang kuat antar sistem dan organ
yang saling membutuhkan.
Media
dianggap sebagai sebuah sistem yang teringrasi dengan masyarakat luas yang
memberikan efek bagi masyarakat dan menimbulkan suatu tindakan atau perubahan
pola pikir, karena pengaruh dari isu-isu komplek yang dibangun oleh media itu
sendiri. Tidak pula mengherankan ketika media dianggap memberikan sumbangsih yang
besar ketika terjadi kekerasan terhadap anak-anak karena informasi yang di
salurkan memberikan efek kognitif bagi prilaku orang lain. explains psychological functioning in terms of triadic reciprocal
causation. in this model of reciprocal determinism, behaviour , cognitive,
biologycal and other personal factors: and environmental events alll operate as
interacting determinants that influance each other bidirectionally (Albert
Banduran 1994, p. 61). Ia
menjelaskan fungsi psiokologi dalam hal efek timbal balik. Efek timbal balik
ini yang kemudian akan memunculkan kognitif dari si perangsang pesan yang
menyebabkan perubahan pola prilaku, faktor pribadi dan lainnya.
Teori kognitif meliputi kegiatan-kegiatan mental yang sadar
seperti berfikir, mengetahui, memahami, dan dan kegiatan konsepsi mental
seperti: sikap, kepercayaan, dan pengharapan, yang kemudian itu merupakan
factor yang menentukan di dalam perilaku. Di dalam teori kognitif ini terdapat
suatu interes yang kuat dalam jawaban (response) atas akibat dari perilaku yang
tertutup. Sebab di dalam hal ini sulit mengamati secara langsung proses
berfikir dan pemahaman , dan juga sulit menyentuh dan melihat sikap, nilai, dan
kepercayaan. Adanya faktor kognitif ini membuat penyampaian pesan yang
dilakukan mendapatkan beragam respon, respon diolah dijadikan prilaku. Tidak
mengherankan jika efek kognitif membuat perubahan yang besar dalam prilaku
seseorang ketika sudah terkena imflikasi dari pemaparan sebuah pesan.
Media sebagai lembaga penyaian pesan, tentu memiliki tujan
tertentu ketika melempar keinginya kepada masayarakat. Misalnya iklan ditayangkan
untuk mempersuasi khalayak membeli produk agar profit meningkat. Begitupun juga
dengan hiburan yang disuguhkan. Sayangnya hiburan yang di tayangkan kadang
tidak mementingkan unsur pembelajaran, salah satunya dengan menayangkan
kekerasan. Ada beberapa jenis kekerasan, dan tayangan fisik,
maupun verbal oleh media
di mana tayangan menampilkan tulisan, aksi, dan ucapan yang berbau kekerasan
berupa kata-kata kasar sampai dengan siaran dan rekonstruksi kekerasan yang
dapat ditonton di televisi, didengarkan melalui radio, ataupun dibaca melalui
media cetak. Kekerasan seperti inilah yang gampang sekali di tiru oleh anak-anak
yang sedang berkembang. Lihat lah kasus penayangan acara smack down di TV,
bagaimana para pegulat bertarung demi mengalahkan musuh. Dan implikasinya
banyak sekali anak-anak kecil yang melakukan smack down gara-gara menonton
tayangan tersebut.
Konteks
kekerasan ini pun di paparkan dengan jelas oleh seorng James Potter yang
mengidentifikasi ada 7 variable, diantaranya adalah. Hadiah/hukuman,
konsekuensi, motif, humor, identifikasi dengan karakteristik media dan gairah.
Media
merupakan alat informasi penyapaian pesan, aplikasi yang diberikan beragam
dengan berbagai macam pilihan. Dan kadang tidak semua orng bisa menolak apa
yangg di katakan media. Mereka mengupdate menjadi sebuah raksasa besar yang
siap siapa saja masuk kedalamnya, bahkan sampai tidak bisa memilih untuk
kembali lagi keposisi awal tanpa pengaruhnya.
[1]
fungsionalisme /fung·si·o·nal·is·me/ n 1 Antr teori yg
menekankan bahwa unsur-unsur di dl suatu masyarakat atau kebudayaan itu saling
bergantung dan menjadi kesatuan yg berfungsi; doktrin atau ajaran yg menekankan
manfaat kepraktisan atau hubungan fungsional; 2 Ling gerakan linguistik yg beranggapan bahwa struktur
fonologis, gramatikal, dan semantis ditentukan oleh fungsi yg dijalankan dl
masyarakat, dan bahwa bahasa itu sendiri mempunyai fungsi yg beraneka ragam
[3]
homeostasis /ho·me·os·ta·sis/ /homéostasis/ n Dok keadaan dl tubuh
suatu makhluk hidup yg mempertahankan konsentrasi zat dl tubuh, khususnya darah
agar tetap konstan (KBBI)
[4]
generalisasi /géneralisasi/ n 1 perihal membentuk gagasan atau simpulan umum dr
suatu kejadian, hal, dsb;2 perihal membuat suatu gagasan lebih sederhana dp
yg sebenarnya (panjang lebar dsb); 3 perihal membentuk gagasan yg lebih kabur; 4 penyamarataan;
-- empiris tesis,
hukum, atau hipotesis berdasarkan pengamatan thd kenyataan tertentu dan
spesifik;

No comments:
Post a Comment