Friday, November 9, 2012

Focus on functionalism and children: moving beyond limited effects functionalism


Focus on functionalism and children: moving beyond limited effects
functionalism[1]
Anggota masyarakat 
 
lembaga
 
organ

 
 









“The cornerstone of functionalist theory is the metaphor of the giving organism, whose part and organs, grouped and organized into a system, function to keep its essential processes going. Similar, members of society can be thought of as cells and its institutions as organs whose functioning .... preserves the cohesive whole and maintains the system homeostasis”. (Bryant and Miron, 2004 p. 677)  
seperti yang di jelaskan oleh Bryant and Miron, mereka  mengibartakan sistem sebagai bagain dari tubuh seorang manusia, di mana sel adalah anggota masyarakat dan organ adalah lebaga itu sendiri, tubuh manusia yang terdiri dari sel dan organ ini mempunyai beberapa tanggung jawab yang harus ia emban demi terciptanya sebuah kehidupan. Begitu juga dengan teori yang di ungkapkan oleh Bryant and Miron, bahwa susunan sel dan organ dalam sebuah sistem ini berfungsi menjaga proses penting yang terjadi, mempertahankan seluruh kohesif[2] dan homeostatis dalam sebuah sistem. Homeostatis[3] sendiri diibaratkan sebagi sebuah pertahan yang kuat dalam sebuah sistem.
Melalui functionalism pengaruh yang jelas dalam komunikasi massa dalam dunia sosial dapat dijelaskan dan dipahami, dan pada saat yang bersaaman efeknya bisa dilihat terbatas sebagai bagian lain dari sistem. Namun beberapa peneliti juga beranggapan bahwa functionalism bisa diterapkan untuk mempelajari komunikasi massa itu sendiri dan tidak hanya untuk sistem sosial.
Apa sebenarnya functionalism dan teori kognitif sosial dalam membentuk teori komunikasi akan dijelaskan dibawah ini.
a.      Middle Range Theories Marton (1967, p. 68)
1.      Middle Range Theories consist of limited sets of assumptions from which specific hypotheses are logically derived and confirmed by empirical investigation (Marton menjelakan bahwa penelitian empiris masih merupakan tongkat pegangan yang penting ketika menggunakan teori rentang tengah ini, karena hipotesisinya merupakan bagian dari penelitian empiris[4].
2.      These theories do not remain separate but are consolidated into wider networks of theory. Dia juga menjelaskan bahwa teori ini tidak dapat di pisahkan dengan penelitian empiris dan merupakan kosolidasi yang lebih luas dari teori itu sendiri. Teori rentang tengah merupakan pompa mendasar untuk membuktikan penelitian empiris.
3.      these theories are sufficiently abstract to deal with differing spheres of social behaviour and social structure, so that they transcend sheer description or empirical generalization. Ketika teori ini di hadapkan pada sebuah hal yang berbeda diluar dari prilaku sosial dan stuktur sosial maka akan terjadi sebuah pemaparan yang abstrak dan hanya dapat menjelaskan secara tipis deskripsi dari pokok permasalah genelasisasi empiris
4.      this type of theory cuts across the distinction between micro sociological problems. Jenis rentang dalam teori ini adalah melintasi perbedaan antara masalah pada sosilogi mikro
5.      the middle range orientation involves the specification of ignorance rather than pretend to kowledge where it is in fact absent, this orientation expressly recognizes what must still be learned to lay the foundation for still more knowledge
Marton menekankan pada tindakan-tindakan yang berulang kali atau yang baku yang berhubungan dengan bertahannya suatu sistem sosial di mana tindakan itu berakar. Ia juga menekankan fungsi manifest (yang dikendaki) dan laten (yang tidak dikehendaki). Fungsi manifest sendiri dijelaskan sebagai konsekuensi-konsekuensi obyektif yang menyumbang pada penyesuaian terhadap sistem itu yang dimaksudkan dan diketahui oleh partisipan dalam suatu sistem (William M Dobriner). Misalkan, sebuah stasiun televisi mempunyai fungsi nyata  yakni menyediakan hiburan bagi masyarakat. Nyata yang dimaksudkan adalah tujuan dari televisi itu sendiri menghibur masyarakat.
 Sedangkan Fungsi laten yang ia jelakan adalah  sebuah fungsi yang tidak dimaksudkan dan tidak diketahui. Dengan  kata lain menyebutkan bahwa fungsi latent merupakan suatu tipe konsekuensi yang tidak terantisipasi, sesuatu yang fungsional bagi sistem yang dirancang. Kita ambil saja contoh stasiun televisi tadi yang menyediakan hiburan untuk masyarakat, misalanya saja sinetron.  Sinetron yang ditonton bisa mengajarkan banyak hal, baik itu tidakan yang baik dan tindakan yang tidak baik, seperti kekerasan yang dilakukan, selain hiburan yang kita dapatkan kita juga terimplikasi hal lain yang secara sadar atau tidak sadar kita mengikuti atau terkena efek sikologis dari apa yang kita tonton.
Kekuatan fungsionalisme terletak pada posisi media nya, di mana pengaruh posisi media yang ada dalam setiap benak masyarakat ini mempunyai pengaruh yang besar dalam sistem sosial. Adanya keseimbangan peran di masyarakat antar media dan masyarakat seperti simbiosis mutualisme saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Kekuatan yang dimiliki fungsionalisme dengan teori hiburan massa menunjukan adanya hubungan dan interaksi media yang kuat antar sistem dan organ yang saling membutuhkan.
Media dianggap sebagai sebuah sistem yang teringrasi dengan masyarakat luas yang memberikan efek bagi masyarakat dan menimbulkan suatu tindakan atau perubahan pola pikir, karena pengaruh dari isu-isu komplek yang dibangun oleh media itu sendiri. Tidak pula mengherankan ketika media dianggap memberikan sumbangsih yang besar ketika terjadi kekerasan terhadap anak-anak karena informasi yang di salurkan memberikan efek kognitif bagi prilaku orang lain. explains psychological functioning in terms of triadic reciprocal causation. in this model of reciprocal determinism, behaviour , cognitive, biologycal and other personal factors: and environmental events alll operate as interacting determinants that influance each other bidirectionally (Albert Banduran 1994, p. 61).  Ia menjelaskan fungsi psiokologi dalam hal efek timbal balik. Efek timbal balik ini yang kemudian akan memunculkan kognitif dari si perangsang pesan yang menyebabkan perubahan pola prilaku, faktor pribadi dan lainnya.
Teori kognitif meliputi kegiatan-kegiatan mental yang sadar seperti berfikir, mengetahui, memahami, dan dan kegiatan konsepsi mental seperti: sikap, kepercayaan, dan pengharapan, yang kemudian itu merupakan factor yang menentukan di dalam perilaku. Di dalam teori kognitif ini terdapat suatu interes yang kuat dalam jawaban (response) atas akibat dari perilaku yang tertutup. Sebab di dalam hal ini sulit mengamati secara langsung proses berfikir dan pemahaman , dan juga sulit menyentuh dan melihat sikap, nilai, dan kepercayaan. Adanya faktor kognitif ini membuat penyampaian pesan yang dilakukan mendapatkan beragam respon, respon diolah dijadikan prilaku. Tidak mengherankan jika efek kognitif membuat perubahan yang besar dalam prilaku seseorang ketika sudah terkena imflikasi dari pemaparan sebuah pesan.
Media sebagai lembaga penyaian pesan, tentu memiliki tujan tertentu ketika melempar keinginya kepada masayarakat. Misalnya iklan ditayangkan untuk mempersuasi khalayak membeli produk agar profit meningkat. Begitupun juga dengan hiburan yang disuguhkan. Sayangnya hiburan yang di tayangkan kadang tidak mementingkan unsur pembelajaran, salah satunya dengan menayangkan kekerasan. Ada beberapa jenis kekerasan, dan tayangan fisik, maupun verbal oleh media di mana tayangan menampilkan tulisan, aksi, dan ucapan yang berbau kekerasan berupa kata-kata kasar sampai dengan siaran dan rekonstruksi kekerasan yang dapat ditonton di televisi, didengarkan melalui radio, ataupun dibaca melalui media cetak. Kekerasan seperti inilah yang gampang sekali di tiru oleh anak-anak yang sedang berkembang. Lihat lah kasus penayangan acara smack down di TV, bagaimana para pegulat bertarung demi mengalahkan musuh. Dan implikasinya banyak sekali anak-anak kecil yang melakukan smack down gara-gara menonton tayangan tersebut.
Konteks kekerasan ini pun di paparkan dengan jelas oleh seorng James Potter yang mengidentifikasi ada 7 variable, diantaranya adalah. Hadiah/hukuman, konsekuensi, motif, humor, identifikasi dengan karakteristik media dan gairah.
Media merupakan alat informasi penyapaian pesan, aplikasi yang diberikan beragam dengan berbagai macam pilihan. Dan kadang tidak semua orng bisa menolak apa yangg di katakan media. Mereka mengupdate menjadi sebuah raksasa besar yang siap siapa saja masuk kedalamnya, bahkan sampai tidak bisa memilih untuk kembali lagi keposisi awal tanpa pengaruhnya.



[1] fungsionalisme /fung·si·o·nal·is·me/ n 1 Antr teori yg menekankan bahwa unsur-unsur di dl suatu masyarakat atau kebudayaan itu saling bergantung dan menjadi kesatuan yg berfungsi; doktrin atau ajaran yg menekankan manfaat kepraktisan atau hubungan fungsional; 2 Ling gerakan linguistik yg beranggapan bahwa struktur fonologis, gramatikal, dan semantis ditentukan oleh fungsi yg dijalankan dl masyarakat, dan bahwa bahasa itu sendiri mempunyai fungsi yg beraneka ragam
[2] kohesif /ko·he·sif/ /kohésif/ a melekat satu dng yg lain; padu; berlekatan; (KBBI)
[3] homeostasis /ho·me·os·ta·sis/ /homéostasis/ n Dok keadaan dl tubuh suatu makhluk hidup yg mempertahankan konsentrasi zat dl tubuh, khususnya darah agar tetap konstan (KBBI)
[4] generalisasi /géneralisasi/ n 1 perihal membentuk gagasan atau simpulan umum dr suatu kejadian, hal, dsb;2 perihal membuat suatu gagasan lebih sederhana dp yg sebenarnya (panjang lebar dsb); 3 perihal membentuk gagasan yg lebih kabur; 4 penyamarataan;
-- empiris tesis, hukum, atau hipotesis berdasarkan pengamatan thd kenyataan tertentu dan spesifik; 


No comments:

Post a Comment