Friday, November 9, 2012
ETNOGRAFI
Etnografi dan Observasi Partisipan
Paul Atkinson
Martyn hammersley
Definisi istilah etnografi itu sendiri banyak mengandung konstoversi dikalangan akademis, beberapa pakar mendefinisikan etnografi sebagai sebuah paradigma filsafat yang menuntut peneliti pada komitmen total, sedangkan para pakar lain menjelaskan bahwa istilah etnografi adalah sebuah metode yang hanya akan digunakan jika memiliki relevansi dengan objek yang diteliti (dengan tujuan peneliti). Selain itu ada pengertian yang berbeda tentang etnografi diantaranya adalah secara praktis istilah etnografi biasanya mengacu pada bentuk-betuk penelitian sosial dengan sejumlah ciri khas sebagai berikut:
1. Lebih menekankan upaya eksplotasi terhadap hakikat/sifat dasar fenomena sosial tertentu bukan melakukan pengujian hipotesis fenomena tersebut.
2. Lebih suka bekerja dengan data tak terstruktur atau dengan kaitan lainnya, data yang belum dirumuskan dalam bentuk kode sebagai perangkat kategori yang masih menerima peluang bagi analisis tertentu.
3. Penelitian terhadap sejumlah kecil kasus, mungkin hanya satu kasus secara detail.
4. Menganalisis data yang meliputi interpretasi makna dan fungsi berbagai tindakan manusia secara ekplisit sebagai sebuah produk yang secara umum mengambil bentuk-bentuk deskripsi dan penjelasan verbal tanpa harus terlalu banyak memanfaatkan analisis kuantifikasi dan statistik.
Ada 4 tipologi model observasi: pengamat murni (complete observer), pengamat sebagai partisipan (observer as partisipan), partisipan sebagai pengamat (participant as abserver) dan partisipan murni (complete participan) (Gold, 1958:Junker, 1960).
Lebih lanjut para peneliti menjelaskan bahwa, dalam aspek tertentu, semua penelitian sosial merupakan semacam observasi partisipan, karena kita tidak dapat meneliti realitas sosial tanpa menjadi bagian dari realitas itu sendiri (Hammersley & Atkonson)/
Baik etnografi maupun observasi partisipan sama-sama mengklaim sebagai bidang keilmuan yang menekankan pendekatan interpretif terhadap berbagai keuntikan manusia yang bertolak belakang dengan pendekatan ilmiah positivistik.
Uraian singkat tentang sejarah etnografi
Awal kemunculan bentuk moderen dari penelitian etnografis biasanya ditandai dengan pergeseran paradigma para ahli antopologi sosial dan budaya pada akhir abad XXI dan permulaan abad XX, khususnya terkait dengan proses pengumpulan data oleh peneliti sendiri secara langsung.
Meskipun jika dilihat dari gaya dan substansinya bidang etnografi merupakan fenomena keilmuan yang muncul pada awal abad XX, namun sejarah awal kemunculannya dapat dilacak dan dijelaskan. Dan yang terpenting dari semua ini adalah bahwa mahzab historisisme mengajukan problem metodologis tentang apakah dan bagaimana idelanya memahami kebudayaan lain: masalahnya ini tetap menjadi perdebatan kunci dalam bidang etnografi moderen.
Mugnkin ciri paling unik dari abad XX adalah semakin tingginya pengakuan bahwa problem pemahaman tidak terbatas pada kajian tentang masa lalu atau masyarakat tertentu, namun juga telah berkembang menuju kajian tentang ruang lingkup sosial yang melingkupi manusia tertentu. Lebih jauh, hal ini tidak hanya berarti bagaimana menyingkap seperangkat kebudayaan, “tradisional” dari masyarakat primitif (misalnya lihat Arensberg & Kimball. 1940), Namun juga mengaku bahwa kemajmukan budaya justru berfungsi sebagai pusat peradaban metropolis setiap suku bangsa (Hannerz, 1969: Suttles, 1986: Whyet, 1955, 1981).
karena terus mengalami dialog dan mendapat pengaruh dari perkembangan keilmuan sebelumnya, maka ilmu-ilmu sosial tersebut mengalami proses institusionalisasi diberbagai universitas barat, dan mayoritas bidang keilmuan saat ini terfokus pada semakin terbukanya peluang dan kesempatan pengembangan ilmu pengetahuan tentang kehidupan sosial. Karena penelitian sosial lebih menekankan upaya memahami tindakan-tindakan dan institusi-institusi manusia yang berbasis pada pengalaman dan pengetahuan kurtular serta berbasis pada pemahaman kooperatif dengan manuasia lain. Disamping kemajmukan budaya yang melingkupi.
Bagi para ahli etnografi dan beberapa ahli dibidang lain, selalu muncul kecendrungan untuk melihat sejarah tersebut sebagai sejarah perselisihan antara dua aliran, yakni paradigma positivistik (positivistic paradigm) yang bertentangan dengan paradigma interpretif atau hermeneutik ((interpretive or hermeneutic). Da;am konteks ini, bidang etnografi lebih dekat dengan paradigma kedua paradigma interpretif atau hermeneutik (Filstead, 1970; J.K. Smith, 1989; Smith & Heshusius).
Hal ini membuat sedikit perbedaan dengan tujuan kami dalam memilih satu tokoh kunci yang bisa mewakili para perintis bidang antropologi moderen. Etnografi ilmiah merupakan gagasan sentral dan masing-masing tokok antropologi tersebt: etnografi ilmiah ini mengacu pada proses pengmpulan data secara langsung oleh peneliti sendiri sekaligus mendeskripsikan karakteristik sosial dan budaya dari masyarakat yang dianggap “primitif”.
Meskipun mahzab sosiologi chicago era 1920 an- 1930 an tanpaknya tidak begitu mendapat pengaruh kuat dari bidang antropologi, namun keduanya memiliki kesamaan dalam aspek-aspek tertentu. Sejarah perkembangan bidang etnografi lebih lanjut- baik dibidang sosiologi maupun antropologi-lebih mencerminkan ketegangan yang terus terjadi antara pengakuan dengan penolakan metode ilmu pengetahuan kealaman sebagai metode penelitian sosial.
Etnografi: ilmu pengetahuan atau bukan?
Harus diakui bahwa pernyataan tidak mudah dijawab hanya dengan sikap afirmatif (pengakuan) atau, sebaliknya, sikap penolakan. Dalam beberapa tahun terakhir, ada banyak gagasan tentang metodologi etnografi yang lebih didasarkan pada penolakan terhadap paradigma positivistik dan secara luas lahir sebagai sebuah pandangan bahwa penelitian sosial harus mengadopsi metode ilmu pengetahuan kealamannya, yakni metode yang terangkum dalam berbagai karya kaum positivis yang memuat berbagai tehnik pengujian hipotesis yang sangat ketat, atau dengan kata lain, dengan menggunakan teknik perhitungan statistik.
Akan tetapi, beberapa tahun terahkir muncul sikap radikal, yakni bentuk penolakan langusung baik terhadap metode kuantitatif maupun terhadap model penelitan ilmuah.
Secara khusus, problem yang dipermasalahkan adalah tingkat objektivitas penelitian sosial, termasuk dalam hal ini adalah tingkat objektivitas penelitian etnografis. Akan tetapi, tantangan yang terus dilontarkan menyangkut tingkat objektivitas penelitian-penelitian sosial (termasuk penelitian etnografis) justru mengantarkan kita pada problem paling mendasar yang mungkin dapat dijangkau dalam konteks pengetahuan ilmu sosial.
Kritikan radikal tersebut juga langsung dialamatkan kepada beberapa pendekatan mahzab kritisisme bagi penelitian kuantitatif dalam bidang etnografi tradisional itu sendiri. Problem epistemologis terkait kualitas penelitian etnografis yang menjadi inspirasi bagi mahzab kritisisme ini memiliki banyak manfaat.
Teori dan praktis
Tema perdebatan dan perselisihan yang banyak mengundang perhatian dalam beberapa tahun terakhir adalah pernyataan menyangkut relasi antara penelitian etnografis dan praktik sosial dan politik. Bahkan para ahli Antropologi dan sosiologi sekalipun pada dasarnya lebih menaruh perhatian pada upaya pengembangan ilmu pengetahuan displiner yang terkadang mempersepsikan pengetahuan tersebut sebagai sesuatu yang sangat berharga dalam proses advokasi subjek yang sedang diteliti.
Akan tetapi, baik argumentasi yang dibangun maupun praktik tindakan yang disarankan berdasarkan landasan tersebut sama sekali tidak sesuai, karena ciri langsungnya tersebut. Secara khusus, bahaya bagi seorang peneliti ketika mengadopsi mitos-mitos etnografis seperti gagasan atau mitos bahwa kelompok suku indian itu sebagai “pulau budaya” (island of culture) yang harus dijaga kemurniannya karena banyaknya kebudayaan yang semakin merongrong, otentisitasnya, atau bahwa orang indian selalu mewakili “kebenaran budaya” (the cultural truths).
Dalam beberapa tahun terakhir, muncul kecendrungan yang meningkat menyangkut penerapan metode-metode etnografi dikalangan ahli sosilogi, antropologi, dan lainnya dalam bidang ilmu-ilmu terapan, seperti bidang pendidikan, kesehatan, dan kebijakan publik.
Retorika dan representasi
Dalam beberapa tahun terakhir, literatur tentang etnografi dan observasi partisipan semakin diperkaya dengan munculnya berbagai pemikiran menyangkut retorika-retorika paparan etnografis. Meskipun masing-masing bidang keilmuan memiliki fokusnya masing-masing, namun tema-tema umum menyangkut etnografi masih tetap sama: (1) konvensionalitas teks-teks etnografis, (2) representasi dari “self” dan “other” dalam teks-teks tersebut (3) karakter etnografi sebagai sebuah genre tekstual, dan (4) karakteristik dasar etnografi dan retorika pembuktian.
Dengan cara yang sama, bidang humaniora juga berlandaskan pada seperangkat metode konvensional umum, khususnya ketika merumuskan dan menegaskan karakteristik untiknya (yang berbeda dengan ilmu kealaman) menyangkut gejala sosial, aktor sosial, dan makna-makan budaya yang terkandung di dalamnya.
Muara dari kesadaran kritis tentang tekstualitas etnografis ini terhimpun dalam tulisan yang disunting oleh Clifford & Marcus (1986) dan sangat berpengaruh berjudul “writing culture. Hampir semua tulisan terfokus pada karakteristik peletakan tekstual yang telah menjadi tema bahasan antropologi sejak lama. Sebagian dari tulisan Clifford & Marcus (meski tidak sepenuhnya) memiliki kemiripan dengan tulisan Greets (1973); seorang ahli yang sejak awal menegaskan bahwa tulisan-tulisan antropologis bisa dianggap sebagai karya “fiksi” jika kita melihatnya sebagi sebuah produk ciptaan; tulisan-tulisan antropologis dikarang oleh para penulis dan dibentuk oleh beberapa konvensi perangkat “literatur”.
Dengan ciri yang sama, kontribusi yang diberikan oleh Atkinson (1982) juga mengkaji sebagi asal usul dan kesejajaran literernya bagi etnografi sosiologis yang terkait dengan mahzab Chicago.
Pada tahun-tahun belakangan muncul penekanan yang sedemikian konsisten pada retorika atau sisi puitis etnografi sehingga muncul bahaya tertentu berupa perhatian berlebihan pada isu literer dan estetik ini
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment