Friday, November 9, 2012

dayna Finett Lingkungan dan Isu2 Sosial Politik


Lingkungan dan Isu2 Sosial Politik


1. Model Diskursif dalam Organisasi
Dalam diskursus organisasi, terutama dalam konteks organisasi dan lingkungannya, terdapat 2 pandangan yang saling bertentangan. Pandangan yang pertama menganggap bahwa antara organisasi dengan lingkungannya memiliki perbedaan dalam tataran konseptual dan empirikal. Sedangkan pandangan yang kedua menganggap bahwa sebuah organisasi tidak dapat dipisahkan sama sekali dengan lingkungannya.
Penelitian-penelitian tentang organisasi yang ada kemudian lebih banyak yang berdasarkan pada pandangan yang pertama, dimana para peneliti melihat adanya batas pemisah “specification boundary”  yang tercipta antara organisasi dengan lingkungannya.
Pandangan bahwa organisasi terpisah dari lingkungannya mengesampingkan peran lingkungan dalam organisasi, atau dengan kata lain, lingkungan tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap apa yang terjadi dalam internal organisasi. Yang terjadi kemudian adalah “specification boundary “ menyebabkan dua kecenderungan yang tidak diinginkan dalam penelitian tentang organisasi. Pertama, para peneliti cenderung melebih-lebihkan batas tersebut. Kedua, peneliti juga mengabaikan peran praktik sosial dalam diskursus hubungan antara organisasi dan lingkungannya.
Karl Weick dengan teori “enacted environment” dan  James R.Taylor dengan teori “conversation” adalah dua ilmuwan sosial yang menyajikan konsep alternatif yang membahas tentang permasalahan “specification boundary” dalam hubungan antara organisasi dengan lingkungannya ini.
Weick menjelaskan bahwa “ boundary between organizations and environment are never quite as clear-cut or stable as many organizational theorists think”. Weick beranggapan bahwa organisasi berada dalam sebuah lingkungan yang mempengaruhinya. Bukan hanya lingkungan fisik, tetapi juga lingkungan informasi. Individu menciptakan lingkungan melalui proses enactment atau penetapan. Weick juga menjelaskan bahwa tidak ada lingkungan yang monolitik, singular, dan tetap yang terlepas dari individu karena individu adalah bagian dari lingkungan itu sendiri. Dengan kata lain Weick melihat tidak adanya batas pemisah yang jelas antara organisasi dengan lingkungannya.
Sedangkan dalam “Conversation theory”, Taylor menjelaskan bahwa  komunikasi adalah organisasi dan organisasi ada karena komunikasi yang terjadi. Taylor menolak pandangan yang melihat bahwa terdapat batas yang kaku antara organisasi dan lingkungannya. Taylor menjelaskan bahwa sebuah organisasi tidak bisa terisolasi dari dunia luar karena adanya komunikasi yang membentuk organisasi itu.
Baik Weick maupun Taylor sama-sama beranggapan bahwa konsep pemisahan antara organisasi dan lingkungannya bukanlah sesuatu yang taken-for-granted dan mereka mendorong sebuah pendekatan dalam hubungan antara organisasi dan lingkungannya yang dilandasi praktek dan proses diskursus yang relevan dalam isu-isu sosial politik.
Apa yang kemudian belum dijelaskan lebih jauh oleh Taylor dan Weick adalah detail lanjutan dari proses diskursus dalam hubungan antara organisasi dan lingkungan sosial politiknya. Bagimana isu-isu sosial politik dalam lingkungan mempengaruhi dinamika organisasi. Hal tersebut kemudian oleh Dayna Finnet dijelaskan melalui konsep institutional rhetoric dan everyday talk. Menurut Dayna Finnet, untuk memahami komunikasi organisasi dalam konteks sosial politik, haruslah dianalisa dengan perspektif “institutional rhetoric” dan “everyday talk”. Jika yang dianalisis hanya salah satunya, akan merubah secara signifikan representasi dari interaksi organisasi dalam konteks sosial politik.

Lebih lanjut kedua hal ini dikaji melaui isu-isu sosiopolitik yang paling banyak menarik minat peneliti organisasi saat ini yaitu sexual harassment dan nepotisme.
           

1.    Retorika Institusi

Text Box: Mempengaruhi norma sosial yang lebih besarText Box: Institusi retorika“sociopolitically relevant organizational discourse in the form of institutional rhetoric involves collective expression intended to influence the large social normative climate, whit outcomes beneficial to the collective”.
 







Dengan adanya retorika institusional diharapkan masyarakat khusunya pada bagian kelembagan bisa mengontrol diri dalam hal berkomunikasi. Tujuan dari sebuah retorika kelembagaan adalah untuk mempengaruhi iklim perubahan norma-norma sosial dalam masyarakat yang lebih besar. Dari pengaruh ini tentunya dinginkan sebuah hasil yakni sebuah perubahan yang bermanfaat bagi sesama.
Organisasi sebagi lembaga terlibat dalam isu-isu sosial baik itu mengenai lingkungan, masyarakat dan lain sebagainya. Masalah ini mengenai isu-isu sosial politik dalam organisasi. Untuk mengatasai masalah isu sosial dibutuhkan sebuah lembaga sosial, dan retotika institusi adalah salah satunya. Retorika intitusi merupakan lembaga yang nantinya akan mengatasi masal-masalah sosial dan mengambil tindakan yang tepat terutama sejauh mana mereka mewakili masalah sosial dan apa kebijakan dan tindakan merupakan solusi yang tepat.
“the primary role of institutional rhetoric in the discursive model of organizations sociopolitical relations thus emphasizes the ways in which organizations strategically advocate wider social meanings
Jadi peran utama retorika institusi dalam model diskursif ini adalah hubungan yang menekankan pada bagaimana strategi pembelaan dari sebuah organisasi dalam sebuah lingkungan sosial yang lebih luas.
Organisasi yang menggunakan retorika institusi untuk mempengaruhi persepektif atau cara pandang mereka tentang isu-isu sosial politik karena adanya perubahan lingkunan sosial politik.
Contoh retorika institusi dalam konteks sexual harassmentà policy statements on harassement contained in company handbooks and training programs, press and popular cultural, narratives from people who have experience harassement, and legal definitions of harassment as articulated in court decisision.
a.       Policy statements on harassement contained in company handbooks and training programs
kebijakan pernyataan dalam pelecehan yang terkandung dalam sebuah buku pegangan di perusahaan dan program pelatihan.
b.      Narratives from people who have experience harassement
Cerita dari orang yang pernah memiliki pengalaman pelecehan seksual
c.       Legal definitions of harassment as articulated in court decisision.
Pelaku pelecehan seksual diberikan hukuman, ada hukum yang mengatur untuk membuat para pelaku pelecehan seksual jera.

2.    Everyday Talk



No comments:

Post a Comment