Lingkungan dan Isu2 Sosial Politik
1.
Model Diskursif dalam Organisasi
Dalam
diskursus organisasi, terutama dalam konteks organisasi dan lingkungannya,
terdapat 2 pandangan yang saling bertentangan. Pandangan yang pertama
menganggap bahwa antara organisasi dengan lingkungannya memiliki perbedaan
dalam tataran konseptual dan empirikal. Sedangkan pandangan yang kedua
menganggap bahwa sebuah organisasi tidak dapat dipisahkan sama sekali dengan
lingkungannya.
Penelitian-penelitian
tentang organisasi yang ada kemudian lebih banyak yang berdasarkan pada
pandangan yang pertama, dimana para peneliti melihat adanya batas pemisah “specification boundary” yang tercipta antara organisasi dengan
lingkungannya.
Pandangan
bahwa organisasi terpisah dari lingkungannya mengesampingkan peran lingkungan
dalam organisasi, atau dengan kata lain, lingkungan tidak memberikan pengaruh
yang signifikan terhadap apa yang terjadi dalam internal organisasi. Yang
terjadi kemudian adalah “specification
boundary “ menyebabkan dua kecenderungan yang tidak diinginkan dalam
penelitian tentang organisasi. Pertama, para peneliti cenderung
melebih-lebihkan batas tersebut. Kedua, peneliti juga mengabaikan peran praktik
sosial dalam diskursus hubungan antara organisasi dan lingkungannya.
Karl
Weick dengan teori “enacted environment”
dan James R.Taylor dengan teori “conversation” adalah dua ilmuwan sosial
yang menyajikan konsep alternatif yang membahas tentang permasalahan “specification boundary” dalam hubungan
antara organisasi dengan lingkungannya ini.
Weick
menjelaskan bahwa “ boundary between
organizations and environment are never quite as clear-cut or stable as many
organizational theorists think”. Weick beranggapan bahwa organisasi berada
dalam sebuah lingkungan yang mempengaruhinya. Bukan hanya lingkungan fisik,
tetapi juga lingkungan informasi. Individu menciptakan lingkungan melalui
proses enactment atau penetapan.
Weick juga menjelaskan bahwa tidak ada lingkungan yang monolitik, singular, dan
tetap yang terlepas dari individu karena individu adalah bagian dari lingkungan
itu sendiri. Dengan kata lain Weick melihat tidak adanya batas pemisah yang
jelas antara organisasi dengan lingkungannya.
Sedangkan
dalam “Conversation theory”, Taylor menjelaskan
bahwa komunikasi adalah organisasi dan
organisasi ada karena komunikasi yang terjadi. Taylor menolak pandangan yang
melihat bahwa terdapat batas yang kaku antara organisasi dan lingkungannya.
Taylor menjelaskan bahwa sebuah organisasi tidak bisa terisolasi dari dunia
luar karena adanya komunikasi yang membentuk organisasi itu.
Baik
Weick maupun Taylor sama-sama beranggapan bahwa konsep pemisahan antara
organisasi dan lingkungannya bukanlah sesuatu yang taken-for-granted dan mereka mendorong sebuah pendekatan dalam
hubungan antara organisasi dan lingkungannya yang dilandasi praktek dan proses
diskursus yang relevan dalam isu-isu sosial politik.
Apa
yang kemudian belum dijelaskan lebih jauh oleh Taylor dan Weick adalah detail
lanjutan dari proses diskursus dalam hubungan antara organisasi dan lingkungan
sosial politiknya. Bagimana isu-isu sosial politik dalam lingkungan
mempengaruhi dinamika organisasi. Hal tersebut kemudian oleh Dayna Finnet dijelaskan
melalui konsep institutional rhetoric dan
everyday talk. Menurut Dayna Finnet,
untuk memahami komunikasi organisasi dalam konteks sosial politik, haruslah
dianalisa dengan perspektif “institutional
rhetoric” dan “everyday talk”.
Jika yang dianalisis hanya salah satunya, akan merubah secara signifikan
representasi dari interaksi organisasi dalam konteks sosial politik.
Lebih
lanjut kedua hal ini dikaji melaui isu-isu sosiopolitik yang paling banyak
menarik minat peneliti organisasi saat ini yaitu sexual harassment dan nepotisme.
1.
Retorika
Institusi

“sociopolitically relevant
organizational discourse in the form of institutional rhetoric involves
collective expression intended to influence the large social normative climate,
whit outcomes beneficial to the collective”. ![]() |
Dengan adanya
retorika institusional diharapkan masyarakat khusunya pada bagian kelembagan
bisa mengontrol diri dalam hal berkomunikasi. Tujuan dari sebuah retorika kelembagaan
adalah untuk mempengaruhi iklim perubahan norma-norma sosial dalam masyarakat
yang lebih besar. Dari pengaruh ini tentunya dinginkan sebuah hasil yakni
sebuah perubahan yang bermanfaat bagi sesama.
Organisasi
sebagi lembaga terlibat dalam isu-isu sosial baik itu mengenai lingkungan,
masyarakat dan lain sebagainya. Masalah ini mengenai isu-isu sosial politik
dalam organisasi. Untuk mengatasai masalah isu sosial dibutuhkan sebuah lembaga
sosial, dan retotika institusi adalah salah satunya. Retorika intitusi
merupakan lembaga yang nantinya akan mengatasi masal-masalah sosial dan
mengambil tindakan yang tepat terutama sejauh mana mereka mewakili masalah sosial dan apa kebijakan
dan tindakan merupakan solusi yang tepat.
“the primary role of institutional
rhetoric in the discursive model of organizations sociopolitical relations thus
emphasizes the ways in which organizations strategically advocate wider social
meanings”
Jadi peran utama
retorika institusi dalam model diskursif ini adalah hubungan yang menekankan
pada bagaimana strategi pembelaan dari sebuah organisasi dalam sebuah
lingkungan sosial yang lebih luas.
Organisasi yang
menggunakan retorika institusi untuk mempengaruhi persepektif atau cara pandang
mereka tentang isu-isu sosial politik karena adanya perubahan lingkunan sosial
politik.
Contoh retorika
institusi dalam konteks sexual harassmentà
policy statements on harassement
contained in company handbooks and training programs, press and popular
cultural, narratives from people who have experience harassement, and legal
definitions of harassment as articulated in court decisision.
a.
Policy
statements on harassement contained in company handbooks and training programs
kebijakan pernyataan
dalam pelecehan yang terkandung dalam sebuah buku pegangan di perusahaan dan
program pelatihan.
b.
Narratives
from people who have experience harassement
Cerita dari orang yang
pernah memiliki pengalaman pelecehan seksual
c.
Legal
definitions of harassment as articulated in court decisision.
Pelaku pelecehan
seksual diberikan hukuman, ada hukum yang mengatur untuk membuat para pelaku
pelecehan seksual jera.
2.
Everyday Talk

No comments:
Post a Comment